Teman Hidup

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja
by. Tulus

Love-Give-Give and Give

::Kalau cinta ya cintai sajalah. Tak perlu meratap2 meminta balasan. Selama engkau masih butuh balasan berarti yg kau cintai adalah dirimu sendiri. Kau tidak sedang mencintainya.

Tak ada cinta yg bisa ditolak. Siapa yg bisa menolak cinta? Cinta itu berada dalam dirimu sendiri, bagaimana mungkin orang lain intervensi dg sikap hatimu. Mencintai adalah memasukkan yg kau cinta ke dalam hatimu. Kalaupun ia tidak mau memasukkan dirimu ke hatinya, itu perkara lain. Itu bukan penolakan. Hanya saja ia tak bisa membalas cintamu.

Jika engkau masih sedih ketika cintamu tak dibalas. Maka sebenarnya engkau pun belum mencintainya. Kau masih mencintai dirimu sendiri. Apalagi ketika cintamu kemudian bisa berubah jadi benci. Engkau masih tertipu2, itu bukanlah cinta yg sesungguhnya.

Take and give bukanlah cinta, ia adalah jual beli. Cinta adalah give and give. Cinta selalu memberi dan memberi. Tak pernah meminta2

Cinta itu sendiri adalah sesuatu yg bersifat rohaniah. Ia tak akan pernah habis ketika diberikan pada orang lain. Juga tak akan rugi walau tak dibalas.

Bagiku mencintai adalah kewajiban. Aku wajib mencintai semua. Tak peduli apakah mereka juga cinta padaku atau tidak. Sehingga aku berusaha untuk memasukkan semuanya ke dalam hatiku. Hanya saja, tentu tak semuanya kebagian tempat duduk di tengah. Ada yg harus rela berdiri di pinggir2 saja hi3..

Jika ada yg merayumu dg kata2: aku mencintaimu karena ALLAH..
Terimalah cintanya. Lalu katakan padanya: aku terima cintamu, tapi aku tak mampu membalas cintamu. Maka kuserahkan pada ALLAH untuk membalasnya..

Jika ia masih minta balasan darimu, katakanlah: loh, katanya kau mencintaiku karena ALLAH. Bukankah itu artinya engkau hanya mengharapkan balasan dari ALLAH?

Hati2lah terhadap orang yg menjual ALLAH hanya untuk mendapatkan dirimu..::

By Ka Ze

Thanks Ka Ze

😉

 

Bersama-mu….;)

Sore itu ketika matahari mulai malu-malu beranjak pergi

Meninggalkan berkas kemerah-merahan nan merona indah

di sudut pantai tak berujung……

Perjuangan itu baru dimulai Sayang,

Ku tahu laut itu tak tenang…

Namun ku akan coba ikuti gelombang itu

Menari menikmati setiap lekuknya

Walau sesekali ia menghatam lebih hinggBERSAMAMUa sedikit terasa

Tapi ku ingin kau percaya aku tak apa Sayang,

Asalkan itu Bersama-mu…. 😉

I.L.U

 

#Terinspirasi  dari nasehat seorang ustadz *eh..abang*

*syukran abang n uni….susu kedelainya masih sisa dikit di belakang jd ria minum aja, hehe

 

 

This entry was posted on Mei 14, 2013. 2 Komentar

I.L.U

Terimakasihku untuk Cinta yang Engkau Tumbuhkan, bukan cinta yang kutanam

Karena ku percaya……

Jika Engkau yang menumbuhkke-destinasi-hatiku-yang-istimewa-untukmu-b-malaysia-malaysia+1152_12972638946-tpfil02aw-24323an maka ia akan semakin tumbuh dan besar

Seperti saat ini,  setiap detik, menit, jam, hari

Cinta itu tumbuh semakin besar

Setiap geraknya, langkahnya, ucapanya, senyumnya, suaranya, bahkan diamnya

adalah Cinta……

I.L.U Mas…….

“Because of  Allah”

Indahnya Bersyukur……;)

“Jika engkau bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku padamu.” (Q.S Ibrahim: 7)

Salah satu kaidah merasakan kebahagiaan dalam hidup adalah dengan bersyukur. Bersyukur, sebuah kata sederhana, yang sudah amat sangat kita kenal.

bersyukur-kepada-allahUjian, masalah dan derita akan menjadi berat ketika kita tidak tahu bagaimana cara bersyukur. Lalu bagaimana bersyukur dan memaknai rasa syukur?

Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah, yaitu Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan ALLAH. Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang ALLAH sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-NYA.

Kedua, Bersyukur dengan Lisan. Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari ALLAH, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi ALLAH). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji ALLAH. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang ALLAH kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.

Ketiga, Bersyukur dengan perbuatan. Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu dengan menggunakan nikmat Allah pada sesuatu yang diridhai-NYA. Bukankah segala sesuatu adalah milik Allah dan hanya kepada-NYA lah semua kembali? Begitu juga semua nikmat, semua milik Allah yang Allah titipkan pada kita. Jiwa & badan kita, milik Allah, suatu saat akan kembali pada-NYA. Keluarga kita milik Allah, suatu saat akan kembali pada-NYA. Harta kita milik Allah, dan bukan suatu yang kekal kita miliki.
Bersyukur dengan amal perbuatan, dengan mempertanggung-jawabkan segala nikmat Allah subhanahu wa ta’ala. Menggunakannya pada sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Maka bersyukur tak lain ada pada ketaatan & ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Syukur menjadi keajaiban ditengah luka, perih dan air mata karena syukur wujud cinta kita kepada Allah. Dengan rasa syukur memenuhi hati, maka kita akan terhindar dari keterpurukan, putus asa dan perasaan negative lainnya dalam hati kita.

Dengan bersyukur, kita akan selalu mampu menerima keadaan diri, tanpa kehilangan kreatifitas untuk selalu berusaha lebih baik lagi. Bersyukur adalah kunci sejati untuk dapat merasakan bahagia.

Bersyukur diumpakan sebagai suatu energi positif yang dengan sadar kita pancarkan dari dalam jiwa dan raga kita. Seperti halnya sesuatu yang positif, maka ia akan menarik hal-hal positif lainnya yang ada di sekitarnya. Maka tak heran jika seorang hamba yang pandai bersyukur akan terlihat selalu bahagia. Sungguh, syukur itu akan menarik nikmat-nikmat lainnya. Seperti janji Allah SWT :” “Jika engkau bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku padamu.” (Q.S Ibrahim: 7).

Yuuk….Siapkan Anak Jadi Penghafal Al-Qur’an

Bagaimana Kita Mempersiapkan Anak Untuk Menghafal Al Quran?

Proses penyiapan anak untuk hafal Al Quran terlihat pada beberapa poin berikut:

  1. Menciptakan lingkungan rumah Qur’ani untuk anak. Dalam arti seorang anak tidak akan memberikan perhatian dan cintanya kepada Al Quran, selama tidak ada contoh dari keluarganya yang terdiri dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Oleh karena itu hendaknya kedua orangtua harus memulai menghafal dan mempelajari Al Quran terlebih dahulu. Pasti setelah itu anak akan belajar dari mereka. Dan hendaknya ada jadwal-jadwal khusus membaca Al Quran walaupun hanya beberapa rubu’ (seperempat halaman) saja sehari.
  2. Orang tua harus berusaha menghafal Al Quran beberapa juz dari Al Quran dan konsisten dengannya. Mereka bisa menghafal 10 ayat dalam sepekan dengan berusaha untuk menyetorkan juz yang dihafalkannya itu kepada orang lain. Atau bisa saling berlomba siapa yang bisa menyesaikan juz yang sedang dihafal terlebih dahulu. Dan itu dilakukan dengan disaksikan anak-anak mereka. Bisa juga dilakukan di depan seorang qori atau pakarnya. Entah di rumah atau di masjid. Anak-anak juga harus dibiasakan diajak ke masjid agar mereka juga terbiasa melakukannya. Perlu juga kita ingatkan bahwa hafalan Al Quran harus diiringin dengan amal. Sehingga perilaku kedua orang tua sejalan dengan ajaran-ajaran Al Quran. Para sahabat dahulu tidak sampai melewati 10 ayat Al Quran sampai mereka bisa mengamalkan apa yang mereka hafal.
  3. Kedua orangtua saling memberi hadiah ketika keduanya menyelesaikan juz yang telah dihafal. Dan hendaknya anak-anak juga mengetahuinya. Atau kalau bisa juga turut serta membelikan hadiah untuk keduanya.
  4. Kedua orangtua konsisten mendengarkan program-program radio atau mendengarkan rekaman-rekaman kaset (atau yang lainnya) dan mendiskusikannya di depan anak-anak. Nah dari sini keduanya bisa mengembangkan skill pendengaran pada anak.
  5. Memperdengarkan kepada anak suara kaset-kaset rekaman salah seorang qori terkenal dan memiliki suara dan bacaan yang bagus ketika mereka sedang mengerjakan hal-hal yang mereka senangi seperti menggambar (melukis) atau mewarnai.
  6. Menggunakan rekaman-rekaman hafalan Al Quran di komputer sehingga akan membangkitkan keinginan anak duduk di depan komputer dan melatihnya mengikuti ayat-ayat yang hendak dihafal.
  7. Memperkenalkan anak dengan Al Quran yang mulia ini. Misalnya tentang kisah turunnya Al Quran kepada Rasulullah saw, jumlah juz-juz dan surat-surat di dalamnya. Serta menceritakan kepadanya beberapa kisah-kisah Al Quran seperti kisah dalam surat al-Baqoroh, dua orang pemilik kebuh dan kisah-kisah para nabi.

Kapan Seorang Anak Mulai Menghafal Al Quran?

Sebagian orang mengatakan bahwa anak mulai bisa menghafal Al Quran sejak usia 3 tahun. Sementara yang lain mengatakan pada usia empat tahun. Tapi saya yakin menghafal bisa dilakukan sebelum itu dan semuanya tergantung dari pengalaman. Oleh karena itu banyak anak-anak yang cerdas sepanjang sejarah yang telah menyelesaikan hafalan Al Quran di usia-usia ini. Sebagian mereka ada yang hafal pada usia 5 tahun. Dan ini tergantung dari kondisi individunya. Perlu kita ketahui bahwa Allah tidak membeban suatu jiwa melainkan apa yang ia sanggupi. Untuk anak anda hendaknya anda memperhatikan hal-hal berikut:

Kenali sejauh mana kemampuan anakmu dalam mengafal. Pada umumnya, setiap ibu pasti tahu apakah anaknya cepat dalam menghafal, kuat ataukah lemah memorinya? Apabila sekarang anda belum mengenal, maka kenalilah saat ini juga. Apabila anda sudah mengetahui bahwa dia cepat dalam menghafal atau sudah bagus hafalannya –dan itu bisa dilihat dari kemampuannya menyanyikan nasyid-nasyid, lagu-lagu yang ia lihat di TV, radio atau rekaman-rekaman lainnya, maka yang harus anda lakukan adalah:

  1. Buatlah perencaaan bersama suami (rencana tahunan, bulan, pekanan dan harian menghafal Al Quran) dalam sebuah jadwal yang dipantau oleh mereka misalnya dalam menyelesaikan 6 juz dalam setahun. Atau menyelesaikan hafalan Al Quran seluruhnya dalam 5 tahun Insya Allah. Anak bisa menghafal 20-25 ayat dalam sepekan atau sekitar seperempat hizb. Ada orang yang bisa menghafal lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah kadar di atas agar tidak menjadi beban atau kesulitan. Tapi ada juga orang yang tidak memperhatikan ini semua. Tapi saran saya jangan ada paksaan dalam hal ini. Sesuatu yang sedikit tapi tetap dilakukan secara rutin lebih baik dari pada banyak tapi terputus-putus, tidak ada berkah dan cepat lupa karena tidak dijaga.
  2. Anak memulai hafalannya dari juz Amma.
  3. Anak mendengarkan sampai juz yang sudah ditentukan dalam sehari melalui kaset rekaman 4-5 ayat. Bisa jadi ayatnya akan lebih apabila ayat-ayat yang hendak dihafal adalah ayat-ayat pendek. Dan itu bisa dibiasakan saat sedang mewarnai atau menggambar. Kita tidak harus memaksakan anak duduk mendengarkan ayat-ayat yang akan dihafal dan mengulang-ulanginya.
  4. Pada akhir pekan kita bisa melihat ayat-ayat Al Quran sudah mulai melekat di benaknya. Akan tetapi hanya butuh pengikatan saja pada ayat-ayatnya. Nah saat itu usahakan anak diajak pergi ke masjid untuk melihat anak-anak lainnya yang juga sedang melakukan apa yang ia lakukan. Dan ini akan membangkitkan semangat perlombaan. “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(Qs al-Mutaffifin: 26). Hendaknya anak difokuskan di bawah penanganan seorang guru yang spesialis. Apabila belum memungkinkan, maka ayahnya bisa melakukan hal itu. Dan itu dilakukan pada setiap akhir pekan (weekend). Caranya, anak duduk di depan ayahnya, lalu ayahnya membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian anaknya mengikutinya. Dan umumnya aktifitas ini hanya memakan waktu 20 menit saja. Seyogyanya ini dilakukan secara terus-menerus dan jangan sampai meninggalkannya sampai anak benar-benar melakukannya dengan baik. Ini dilihat dari satu sisi. Dari sisi lainnya, agar terbentuk pada anak kebiasaan membaca Al Quran, menjaga, memelihara dan mencintainya. Akan lebih bagus lagi apabila kegiatan ini dilakukan dengan sesuatu yang disukai anak, misalnya mengajaknya jalan-jalan atau rihlah di akhir pekan. Saya tidak bermaksud mengajaknya rihlah atau jalan sebagai syarat ia menghafal. Sebagaimana saya juga mengingatkan keharusan membangkitkan semangat kegembiraan dan gairah terhadap kegiatan ini tanpa mengurangi sedikitpun perasaan menghormati dan menjunjung tinggi dari yang dibaca.
  5. Mengapresiasi anak ketika ia bisa melakukan hafalannya lebih cepat dengan kata-kata yang baik, penuh pujian dan mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya itu akan membahagiakan kedua orangtuanya sebelum ia mendapatkan ridho dari Tuhannya. Atau bisa juga dengan mentraktirnya makan di luar rumah.
  6. Mengadakan pesta setelah ia berhasil menghafal satu juz.
  7. Agar hafalan Al Quran tidak mudah hilang, maka kita harus menjaganya dengan murojaah secara berkesinambungan. Anak harus melakukan murojaah hafalannya setiap pekan dengan cara yang sudah saya sebutkan di atas. Ia juga harus melakukan murojaah bulanan. Murojaah dilakukan dengan mendengarkan kembali ayat-ayat yang dihafal pada 3 hari terakhir dalam sebulan, lalu dengan cara yang juga disebutkan sebelumnya. Seorang ayah hendaknya menyimak hafalan anak di sela-sela bulanan. Akan lebih bagus lagi apabila proses murojaah ini dilakukan dalam bentuk musabaqoh (perlombaan) yang diadakan, misalnya di masjid dan memberikan hadiah-hadiah secara simbolis.
  8. Berperan sebagai pengganti guru tahfiz -ini berfungsi sebagai motivasi bagi anak yang pandai dalam tilawah Al Quran dan hafal beberapa juz Al Quran secara itqon. Seperti misalnya dengan cara menjadi guru tahfiz pada juz ini bagi siapa saja yang belum hafal di antara saudara-saudaranya atau teman-temannya di masjid dengan syarat berada dalam bimbingan ayah atau seorang syekh di masjid.

Bagaimana Mengatasi Rasa Bosan?

Jarang sekali rasa bosan hinggap dalam jiwa seorang anak ketika ia menghafal, kalau kita mengikuti metode yang lalu. Karena kita tidak menganjurkannya ia untuk banyak duduk dan mengulang-ulang kecuali hanya satu kali saja sepekan. Itu juga dikarenakan hafalan sudah melekat di dalam dirinya dengan sesuatu yang ia senangi. Adapun apabila ada sesuatu yang meresap seperti futur (patah semangat) atau bosan, maka kita harus membahas dalam beberapa perubahan, misalnya:

  1. Apabila anak dihinggapi rasa futur maka pertama kali janganlah kedua orang tua memperlihatkan perhatiannya akan hal itu. Akan tetapi keduanya tetap fokus pada cara yang dilakukan (membaca Al Quran harian, hafalan dan mengkhatamkan tilawah dan seterusnya). Jangan sampai jadwal keduanya berubah, merubah metode yang digunakan atau memperlihatkan kesedihan terhadap anak yang futur menghafal. Tapi mereka harus terus menyibukkan rekaman-rekaman ayata Al Quran kepada anak sebelum tidur.
  2. Hendaknya seorang anak belajar menyibukkan sendiri ayat-ayat yang akan dihafal melalui rekaman. Kemudian melakukan kegiatan menggambar, mewarnai atau membantu ibunya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dalam keadaan tetap mendengarkan ayat.
  3. Masjid mengadakan program rihlah khusus. Di perjalanan anak-anak selalu diperdengarkan ayat-ayat –kalau bisa- untuk memastikan hafalan Al Quran mereka. Hal itu juga bisa dilakukan di mobil ketika pergi dalam salah satu rihlah keluarga di akhir pekan. Orangtua seyogyanya menjadi teladan dalam hal ini. Ayah meminta ibu untuk mengulangi ayat-ayat yang sudah dihafal dan sebaliknya ayah juga melakukan hal yang sama. Kemudian anak.

Bagaimana Kita Membantu Meningkat Konsentrasi Pada Anak?

Apabila anak anda tidak bisa menghafal dengan baik, maka anda harus mengikuti cara-cara sebelumnya dan anda harus:

  1. Membuat planning menghafal yang sesuai dengan kemampuan anak, misalnya menghafal rubu hizb (seperempat hizb) dalam dua minggu sebagai ganti dari seminggu.
  2. Mengulang-ulang ayat lebih dari sekali sebelum tidur. Hendaknya ini menjadi terakhir dari apa yang ia dengar sebelum tidur.
  3. Tidak membentak anak apabila lambat dalam menghafal.
  4. Memberikan apresiasi setiap kali ia bisa menghafal lebih cepat.
  5. Menambah jumlah ayat yang hendak dihafal dalam sehari sebagai ganti dari 2 ayat. Jadikan ia 4 ayat. Teslah anakmu bagaimana responnya dengan penambahan ini. Apabila tidak terjadi kesalahan apapun, teruskanlah ia untuk melakukan cara-cara itu. Jika ia tidak bisa menjawab (pertanyaan), kembalilah ke peraturan yang ia sanggupi.
  6. Bagilah ayat-ayat yang panjang menjadi beberapa penggal sampai bisa memudahkan hafalan.

Dan terakhir saya menasehi rekan-rekan pemerhati tarbiyyah untuk bersabar dan tabah. Karena ini adalah kunci kesuksesan hakiki bagi anak.

Wallahu A’lam bish Shawab

oleh:Hidayat Hamim